Wednesday, August 1, 2012
Perompak Jiwa
waktu kian menjauh bintang pun semakin enggan bergelayut di timur laut
tak lagi kau lihat matahari terbit
bunyi bunyi menjelang pagi semakin berisik
jangkrik, dingin, dan kenang-mu semakin tipis seiring bara api di ujung tembakau
seiring bara api muncul di ufuk timur
kau tahu yang paling indah di dunia ini tak lain hanyalah memandang mu tersenyum
andai kasih...
bertemu dengan mu adalah neraka aku lebih memilih neraka biar lebur terbakar semua raga tapi menjiwaimu aku lebih memilih
matamu yang sebening embun di padang pasir
aku merindukanmu...
rambut hitam yang kau tata dengan acak seolah ukiran - ukiran picasso di atas kanvas
hhehehe...
kenapa setiap membayangkanmu aku selalu tersenyum, kadang tertawa, padahal kau tak berniat mengembalikan jiwa yang kau curi
hhehehe...
biarkan alasan-alasan itu menjawab sendiri semakin waktu beranjak dari senja menuju malam lalu pagi
kembali....
berayun syahdu kembali di langit timur laut
Sunday, April 3, 2011
Prajurit Pencabut Nyawa (Hati)
Di dalam bar itu sebuah kenangan muncul. Saat dia telah tunduk dari kegembiraan. Kegembiraan yang dulu sempat hinggap, hingga menjadi kenangan.
Malam yang semakin membumbung tinggi bersamaan dengan bungkus kedua prajurit - prajurit pencabut nyawa, membakar habis paru - parunya. Bahkan membuatnya terbatuk batuk. Sesekali dihentikannya-lah para prajurit itu dari kerongkongannya dengan serombongan air beralkohol 5%.
Sedikit demi sedikit.
Tapi yang dirasa bukanlah kesegaran setelah terjadinya pertumpahan darah dari perebutan wilayah para prajurit pencabut nyawa.Malah semakin kering. semakin tandus. semakin tidak mengerti. Mengapa kenangan itu tak pernah hilang. Bahkan semakin terasa. Mencekik kerongkongannya. Menghitamkan paru parunya. Hingga, menghancurkan hatinya.
Hati seorang anak muda yang sangat berapi - api (dulu). Kini telah padam. Hanya bara sisa masa lalu.
Dan bungkus terakhir pun kini telah kosong. tak ada alasan lagi untuk menghentikan para prajurit itu.
Pemuda itu berdiri, dengan sedikit terhuyung dia pun berjalan. Diiringi lagu terakhir dari penyuguh musik dalam bar itu. Yang memainkan lagu goodbye dari air supply. Dengan wajah yang semakin murung dia melangkah.
Sunday, January 2, 2011
An angel
mendeskripsikan-mu begitu mudah...
kau pernah melihat malaikat?
itulah dirimu.
you're the kind of girl who can take down a man with a single smile even a single move.
yaa... aprhodite pun cemburu melihatmu.
Missing the meteor
just like you.
come and gone as fast as a light.
one years like nothing.
remembering holding your hand.
talking.
and touching your hair.
can't fight it!
it's come again, the meteor.
thinking it make me smile.
make me cry.
make me crawl.
where are you now?
can't you saw in my eyes!
i love you!
i miss you....
Friday, October 22, 2010
Thank You
her smile.
her skin.
her hair.
her smell.
voices.. laugh.
scratching my skin, till it bleed..
i miss your nails scratching my skin, that's a wonderful pain.
rememberring you back in past 4 rottation moon.
when everythings shining.
you know.. you're definatly sunshine in the morning.
shine warmly in the morning.
give your light to the moon.
yeah.. i'm the moon, just a darkness without you.
thanks for giving me your element of life.
Wednesday, September 8, 2010
Kritikan Pedas Seorang Sahabat
BUZZ!!!
- A: Aku rindu dia.. T.T
- Z: lemah! lepaskan! relakan! ikhlaskan!
- A: salahkah!
- Z: mereka saja sanggup.
- Z: kau takut melangkah ke depan!?
- A: Bukan takut..tpi sulit
- A: Sulit untuk melangkah
- Z: berusahalah. bila perlu benci dia!
- A: Tolol..
- A: Tak perlu melakukan hal itu demi mendapatkan kesenangan semata dan sementara
- A: Biarlah mendarah daging..
- A: Mgkn byk pelajaran yg saya dapat dri smua ini
- Z: dia pun berharap kau melangkah. bila dia benar - benar sayang. dia akan rela dibenci agar kau melangkah maju
- A: aku tak berharap apa yg dia harapkan
- A: Inilah aku..biarkan aku yg menjawab smua tanda tanya itu
- Z: terserah! kau terlalu egois! membuat smuanya berputar - putar pada tempatnya.hidup itu untuk maju. mempelajari apa yang ada di belakang. biarkan itu menjadi warna dalam kenangan..
- A: Orang yg mengatakan seseorang egois tidak menydari keegoisan dirinya sendiri..
- A: Inilahh aku..terima kasih teman dgn saranmu yg terlalu membosankan untuk ku dengar..sudah byk yg memberikan kata" itu kepadaku
- Z: lihatlah, kau berkata tanpa arah untuk memenangkan keinginanmu sendiri.
- A: Kau meremehkan hanya karna beberapa kata driku
- A: Aku hanya berucap rindu..
- A: Apakah itu cermin dri kelemahanku
- Z: tidak. itu sifat manusia. tak pernah aku berucap kau salah karena merindukannya. kau hanya terbawa ego dan perasaan, untuk sementara berpikirlah dengan logika. mungkin itu dapat membantu kau melupakannya tanpa harus membencinya.
- A: Haha..
- A: "Tanpa harus membencinya"
- A: "Bila perlu benci dia"
- A: Mana yg hrus aku cerna teman?
- A: Sudahlaah..
- A: Hanya aku yg dpat menjawab semua itu
- A: Terima kasih dgn kata"mu..
- A: Aku hanya ingin kau meluangkan wktumu untuk mendengarkan ceritamu
- Z: "bila perlu benci dia" cb kau cerna kata - kata ini. "bila perlu". tak harus kau lakukan.
- A: Dari awal kau hanya menginginkan aku setegar yg kau bayangkan..
- A: Brusaha membuatku melupakan dia
- A: Maaf saya tak sekokoh apa yg kau bayangkan
- Z: yaahhh.. itu cuma kritikan dari seseorang sahabat. maaf bila terlalu pedas. aku cuma ingin melihat kau berhenti termenung dengan semua masa lalumu.
- Z: semua itu hakmu. aku tak patut meng-komandoi-mu.
- A: Ahahaha..yaaa aku terima smuanya teman..
- A: Terima kasih
- Z: tetap tegar. aku yakin kau kembali meroket ke langit.
- A: Ya ya ya..semoga
- A: Bgitu jga kau sahabat
- Z: hha.. terima kasih.
- A: Untuk skrg biarlah kita trus merunduk dgn pengalaman yg kita dpatkan
- Z: yaa.. dan menjadi padi yang berisi di kemudian hari. :)
[end of conversation]
Garis
Kau melewatinya dengan tegap.
Berpandang lurus ke depan.
Seakan tak mempelajari apa yang kau lewatkan.
Kau bertarung dengan kebutuhan.
Kesenangankah? atau kebiasaan?
Kau tinggalkan semua yang bisa di pelajari.
Tak bisakah kau berjalan dengan melihat sekitar.
Mempelajarinya.
Hingga membentuk pribadi.
Yang tentu menjadikanmu lebih baik.
Tanya!
Apakah semua itu membahagiakan?
Apakah kebahagiaan yang kau jinjing?
Hanya kau yang tahu.
Hanya dirimu yang merasakan.
Garis yang kau lalui itu maya tak nyata.
Hanya kabut ilusi dari kebahagiaan.
Yang seharusnya kau tinggalkan.
Untuk melirik ke sekitarmu.
Dan menjadikannya bahagia yang nyata.
Saturday, September 4, 2010
Buku Kehidupan
Menggaris bawahi semua yang indah saat ber-rotasi.
Membaca kembali buku yang berdebu.
Tersadar kalau semuanya itu palsu.
Tak seindah tak kasat mata.
Mengacu pada pengalaman.
Menghapus kembali yang pernah indah.
Menjadikannya sebuah bacaan yang tak kau dapat dari pendidikan normal.
Menutup, dan membuka.
Untuk akhir dan awal.
Entah itu indah atau pun buruk ...
Berkilau Untuk Merapuh
Terpapar dengan gamblang semua cerita masa lalu.
Mengais kembali jejak berkilau.
Tanpa harus berkata.
Semua yang berawal pasti mempunyai sebuah ujung.
Entah itu jurang ketiadaan atau hamparan luas nan indah.
Tak akan dan tak mungkin kembali menjadi nyata.
Yang ada hanyalah sisa - sisa terbakar.
Dengan api kebohongan.
Dan semuanya menjadi terlelap.
Terbias...
Wednesday, July 21, 2010
Harapan
Bersamaan dengan terpaan angin, awan pun menghitam.
Tak lama, dan tetesan kecil mulai berjatuhan.
.............
Begitupula dengan mata ini.
Seolah menyatu dengan kegelisahan dalam hati.
Akankah semuanya kembali lagi.
Pada saat dimana hujan dan hitam menjadi potongan tubuh ini.
Haruskah aku berteman lagi dengan malam dan semua yang ada disekitarnya.
Haruskah aku berteman dengan kegembiraan malam, yang hanya sebagai topeng penutup kesedihan.....
Aku benar - benar tak sanggup.
Entah apa jadinya kalau kau berjalan membelakangiku.