Showing posts with label Zaddam Hussein. Show all posts
Showing posts with label Zaddam Hussein. Show all posts

Sunday, July 16, 2017

Kau

Aku: Apakah kau aku?
Aku: Ya, aku adalah dirimu
Aku: Satu-kah kita?
Aku: Bagaimana menurutmu?
Aku: Menurutmu?


Monday, October 19, 2015

Tak Satupun Tahu

Bagaimana menuliskan suara - suara? Ketika suara - suara itu tak memiliki kata namun sangat bermakna.
Apakah tepat dikatakan "rindu" ketika kita tak tahu merindukan apa atau siapa.
Bagaimana kau menuliskannya?
Bagaimana kau melukiskannya?

Kau bisa menuliskannya "indah" ketika itu menggembirakan.
Kau bisa menuliskannya "senyum" ketika kau tahu merindukan siapa.

Tetap saja bagaimana menuliskan suara - suara itu yang tak satu-rindu pun tahu merindukan siapa.

Friday, March 27, 2015

Dulu

Aku ingin mencintainu penuh.
Aku ingin merindukanmu selalu.
Aku ingin meminum air matamu menumpahkannya dari mataku.
Aku ingin sakit dari sakitmu.
Aku ingin aromamu pagi pagi.
Aku ingin bibirmu.

Dulu.

Di bibir. Harapan.

Cintaku, apa kau pernah melihat kabut melahap gunung. Menghapus habis tiap lekuk tubuhnya.
Mengkaburkan semua yang ada di depan mata.

Mereka bahkan melahap lautan. Menyesatkan kapal kapal di cakrawala. Menghilangkan harapan, sayang.

Aku ada disini masih disini, tak pernah meninggalkanmu hanya saja kabut sedang melahapmu.

Membatu.

Ingatlah sepasang bibirku sayang.

Takut

Mengapa perasaan ini begitu berisik.
Meminta ini meminta itu.
Aku tak tahu bagaimana harus menenuhinya.
Apa harus aku ambilkan bulan di ujung angkasa.
Menyelam di dasar laut nan luas.
Berenang di kawah kawah gunung nusantara.

Aku tak tahu.
Aku takut.
Aku bingung harus membawakan cinta ini kepada siapa.

Apa harus aku berkilau layaknya kilat di langit atau menggelegar seperti guntur di atas sana.
Agar kau sadar betapa rindu nafas ini akan tawamu.

Harus bagaimana lagi...
Aku tak merasakannya seperti dulu kasihku.
Namun aku merindukannya.

Friday, February 20, 2015

Lemari

Aku masih ingat helai rambutmu di celah jemariku gugur.

Seperti waktu yang hangat.
Singkat, begitu memikat.

Hujanpun punya tempat dalam lemari, tentang riang kita berdua didalamnya.

Hingga kau begitu jauh, melompat dari lemari lemari.
Dari celah celah jemari belai rambutmu hening.

Hanya ketiadaan.

Saturday, February 15, 2014

Dalam diam

Kita bisa menanggung rasa seperti tentara - tentara di tanah perang
Menunda rasa di tanah sayang, sayang

Kita bisa ber-akting layaknya para pencinta peran
Dan berpura - pura melapisi diam

Sedang rindu ini tak pernah padam sayang
Bergejolak dalam diam, berjalan dalam diam
Terombang ambing di awang
Menembus kabut menghisap diam

Sayang, masihkah dirimu riang dan bersenandung dalam hujan walau kau tak semesranya tenang


Tuesday, February 4, 2014

Negaraku. Bukan negaraku.

Kita kehilangan jati diri!
Bisu, tak lagi berani berbicara.
Berputar putar memilih warna.
Bingung akan warna sendiri.
Bingung akan tanah sendiri.

Apa mau-mu negaraku?
Apa mau-mu permerintahan Indonesia-ku?
Tidakkah kalian sadar kita tak lagi berwajah, tak lagi berwarna, tak lagi merah maupun putih!

Apa. Ini.

Dari cinta yang luar biasa hingga rindu melarut dalam luka. Bias. Tak lagi berbatas.

Friday, January 24, 2014

Hujan tanpa hujan

Hujan tanpa hujan
Terikatlah hujan
Tanpa hujan
Atau hanya hujan
Hanya hujan yang paham pada hujan

Hujan tanpa hujan
Tak bersuara
Sunyi

Hanya awan kelabu menggelayut
Lembut dalam biru
Hujan tanpa hujan
Sepi

Seseorang. Rindu.

Entah harum bunga mana yang merasuk jiwa ini sayang
membuai bagaikan malam
Terlarut layaknya garam

Edan, berlalunya waktu pun seakan tak berbunyi
Menjentik jari dan semuanya terjadi

Entah harum lautan mana yang menari dalam jiwa ini sayang
bergejolak namun hening
Tak ubahnya senyuman mu nan bening

Pelan, hingar tak bersuara
Menjalar bagaikan kecapi kecapi para dewi di khayangan

Ahhh, riang tawamu hening senyum dan rindumu
telah rebah di jiwaku menjelma sebagai kesendirianku

Saturday, July 6, 2013

Ro

Telah di cakrawala, kelak kita terjun ke angkasa mendayung di gugusan bintang.

Wednesday, May 15, 2013

Partikel Rindu

Seribu hujan
Seribu bintang
Sejuta debu di udara
Tak runtuh bulan kepelukan

Senja di atas hujan

Senja di atas hujan
Melambai lihai melewati lekuk wajah
Tubuh
Rambut

Senja di atas hujan
Senyum-mu kasih payung kemarau
Sorot matamu kemilau malam
Punggung-mu memeluk senja
Simpul-mu meraba lembut
Kicau-mu selewat kemarau

Senja di atas hujan
Apa daya senja tanpa garis bibir-mu
Apa arti malam tanpa tatap mata-mu
Sejatinya senja hujan rauh dirimu-mu

Monday, May 13, 2013

Samudra

Terendam benam kelopak matamu
Tak tuju tatap matamu
Dari lembah pagi perkasa jadilah engkau kerinduan malam
Satu dua tiga empat kali mengitari matahari
Pagi cerah kau berlayar berdua
Terbenam tenggelam kau di samudra tangis sendiri

Thursday, December 13, 2012

Pohon pagi

Kau hirup lagi udaraku pagi ini.
Kau tebang aku di sana sini.
Tak sekalian saja kau bakar habis.

Hingga aku berguguran.
Gergaji gergaji itu tetap mengeluarkan suara bising, semua hancur.
Sekalian tak kau bakar diriku.

Tanamlah aku di pekarangan rumahmu.
Jagalah aku yang selalu diam dalam kerindangan senyummu.
Siramlah pohon ini dengan suara nyanyianmu.

Pohon pagi ini telah berjanji tak akan pernah meninggalkanmu mati.
Pohon pagi ini janji meneduhkan diam-mu.

Pohon pagi ini akan tetap meneduhkanmu pagi-mu.



Tuesday, December 11, 2012

Kirana

Kirana di antara matahari yang hampir sirna dan pohon tua.
Kirana tanpa kata hatinya bersenandung ria.

Tentang suka citanya bersama savana - savana sebelum merdeka.

Dari situ semuanya berubah.
Matahari melebur di lautan.
Menguningkan lautan biru.
Menghitamkan malam.

Kirana Kirana... Langkahnya mematri kota Jakarta.



Monday, November 26, 2012

Membaca

Membaca, rata - rata sekarang seluruh manusia bisa membaca. Membaca juga diajarkan sejak taman kanak - kanak. Mulai dari A I U E O sampai BA BI BU BE BO. Dan huruf huruf lainnya.

"Begitu belajar membaca, engkau akan menjadi bebas untuk selamanya."
~Frederick Douglass
 “Books are the ultimate Dumpees: put them down and they’ll wait for you forever; pay attention to them and they always love you back.”
~John Green, An Abundance of Katherines
 “Do not read, as children do, to amuse yourself, or like the ambitious, for the purpose of instruction. No, read in order to live.”
~Gustave Flaubert
 “My personal hobbies are reading, listening to music, and silence.”
~Edith Sitwell
“I cannot remember the books I've read any more than the meals I have eaten; even so, they have made me.”
~Ralph Waldo Emerson
Dalam agama saya pun mewajibkan membaca. "Membacalah dengan menyebut nama Tuhanmu"

Tapi apa kita (manusia) sadar bahwa membaca tidak hanya "membaca" (tulisan) tapi juga membaca apapun di sekitar kita. Alam, manusia, kehidupan, bahkan membaca suara.

Membacalah sebagai jalan bebas hambatan.

Thursday, November 15, 2012

Trampled Rose


Just like a trampled rose, a life of pain and sorrow
A constant struggle every day, your dreams seem so far away.
All your friends turn their backs on you, people put you down
Point their fingers and stare,
Done no wrong, but you've been accused
 Now you're on your own

The next day feels just the same, you're caught in a waiting game
So you start to build a wall, so you can't feel anything at all
You may think, that the sun don't shine, that you're the only one
But you have to believe,
For it's said, they that sow tears, will reap in Joy

Pull down those walls and let your light shine,
Rise from your pain, and hold your head high
And look into the light

Even though the road seems long, everything you do looks so wrong,
Pick yourself off the ground, dust yourself off, come out of the dark.
Don't give up, don't forget your dreams, you can make it through, you just got to believe,
You are strong, You are beautiful, You can break those chains.

Pull down those walls and let your light shine,
Rise from your pain, and hold your head high
Give thanks to god for what you've got,
Forget what you want and see what you have

Thursday, November 8, 2012

Terima kasih

Kalian pernah memperhatikan orang yang sedang berdoa?

Kenapa mereka selalu menunduk.Apa mereka merasa lebih tinggi dari Sang Pencipta.
Bukankah seharusnya kita berdoa menghadap ke atas karena kita lebih rendah dari Tuhan yang menciptakan semua, alam beserta isinya yang terlihat maupun tak terlihat.

Apa doa - doa mereka semua berupa penyesalan, apa doa mereka semua berupa ketakutan akan masa depan mereka. Sedang masa depan telah Dia tentukan.

Mulai sekarang berdoalah menghadap ke atas untuk berterima kasih telah memberikan semua yang kita perlukan di dunia ini.